Pada Bab ini akan disajikan pembahasan yang berhubungan dengan aliran-aliran yang digunakan untuk memahami permasalahan pendidikan yaitu masing :
- Aliran klasik dan Gerakan Baru Pendidikan.
- Dua “Aliaran” Pokok Pendidikan di Indonesia.
A. Aliran klasik dan Gerakan Baru Pendidikan
Dilihat dari sudut perkembangan yang dialami oleh anak maka yang disengaja dan terencana yang yang disebut pendidikan ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan. Dalam hal ini akan dibahas :
1. Aliran Klasik dalam Pendidikan
Terdapat beberapa faktor-faktor yang berperan dalam perkembangan anak dapat dinyatakan sebagai aliran klasik dalam pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan empat aliran pokok klasik yaitu :
a. Empirisme
Teori Empirisme ini dipelopori oleh John Locke (1622-1700), seorang filsuf dari Inggris, mengajarkan bahwa perkembangan pribadi anak ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan (termasuk pendidikan). John Locke berpendapat bahwa anak yang baru lahir di dunia sebagai kertas putih dan lingkungan atau pendidikan itulah yang “menulisi” kertas putih tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah :
- Pendidikan harus diberikan seawal mungkin
- Pembiasaan dan latihan lebih penting dari pada peraturan, perintah atau nasehat.
- Anak harus dianggap sebagai makhluk rasioanl, dalam hal ini kepada anak diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut darinya.
b. Nativisme
Tokoh Nativisme adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filsuf dari bangsa Yunani yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan buruk. Teori ini bertolak belakang dengan teori Empirisme. Dalam hubungannya dengan hasil pendidikan dan perkembangan, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak kelahirannya. Aliran ini berpendapat bahwa pembawaan Maha Kuasa dalam pendidikan.
c. Naturalisme
Teori Naturalisme ini dikembangkan oleh JJ. Rousseau (1712-1778) seorang filsuf dari bangsa Perancis. Rousseau berpendapat dalam bukunya Emila bahwa: “Semua adalah baik pada waktu baru datang dari tangan sang Pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia. Aliran ini juga disebut dengan negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik dengan sendirinya.
d. Kovergensi
Tokoh aliran ini yaitu William Stern (1871-1939) seorang ahli Pendidikan bangsa Jerman, yang berpendapat bahwa Empirisme dan Nativisme itu masing-masing terlalu berat sebelah atau terlalu ekstern. Menurut aliran ini baik pembawaan maupun lingkungan kedua-duanya mempunyai pengaruh terhadap hasil perkembangan peserta didik.
2. Gerakan Baru Dalam Pendidikan
Gerakan “Baru” dalam pendidikan mempersoalkan bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bermanfaat secara maksimal bagi individu yang sedang berkembang dan bagi lingkungan atau masyarakatnya.
Terdapat beberapa gerakan “baru” dalam pendidikan yang berkembang di Eropa dan Amerika adalah sebagai berikut :
a) Pengajaran alam sekitar
1. Konsepsi pengajaran alam sekitar.
Manusia hidup dalam lingkungan tertentu, dan terikat pada lingkungannya serta tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. Dalam hal ini manusia hendaknya mampu memanfaatkan lingkungannya sejauh mungkin, baik kehidupannya sehari-hari maupun dalam hal pengembangan pribadi manusia sendiri, hal inilah yang menjadi dasar dari konsep pengajaran alam sekitar itu sendiri.
2. Langkah-langkah Pokok Pengajaran Alam Sekitar.
Langkah-langkah pokok pengajaran alam sekitar adalah sebagai berikut :
a. Menetapkan Tujuan, Pertimbangan utama. Yang harus diperhitungkan ialah kemampuan dan tingkat perkembangan anak.
b. Persiapan perlu dilakukan, baik persiapan guru maupun persiapan siswa.
c. Mengadakan Pengamatan dan Mengolah apa yang diamati.
d. Langkah pengolahan tidak harus dilakukan di luar kegiatan pengamatan, tetapi sambil mengamati para siswa yang sudah langsung belajar bahkan menangkap berbagai permasalahan dari obyek pengamatan itu.
b) Pengajaran Pusat Perhatian
1. Konsepsi Pengajaran Pusat Perhatian.
Pengajaran pusat perhatian didasarkan pada pengajaran alam sekitar yang obyek-obyek pengamatannya dititik beratkan pada sesuatu atau pusat tertentu, pada hal-hal yang menarik perhatian anak seperti apa yang menjadi kebutuhan hidupnya.
2. Asas-asas Pengajaran Pusat Perhatian.
Terdapat beberapa asas yang menonjol dalam kaitannya dengan pengajaran pusat perhatian yaitu :
- Pengajaran didasarkan atas kebutuhan anak dalam hidup dan perkembangannya..
- Setiap bahan harus merupakan keseluruhan (totalitas), tidak mementingkan bagian-bagian tetapi lebih keberartian dari keseluruhan ikatan bagian-bagian itu.
- Hubungan keberartian antara bagian-bagian itu adalah hubungan saling membutuhkan dan saling memberi tahu.
c) Sekolah Kerja.
1. Aliran Pendidikan Individual dan Sosial.
Konsepsi sekolah kerja lahir dalam kaitannya dengan aliran pendidikan sosial yang berkembang dari aliran pendidikan individual yang ekstern mengatakan bahwa di dalam masyarakat yang paling pokok (primer) ialah individu, orang seorang dan masyarakat adalah sekunder, dan pendidikan sosial yang ekstern mengatakan bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakatlah yang paling utama sedangkan individu adalah sekunder.
2. John Dewey (1859-1952)
John Dewey, seorang pemikir dan pendidik bangsa Amerika yang terkemuka, menentang tentang hakekat manusia masyarakat dan pengetahuan yang menjadi dasar pelaksanaan sekolah tradisional. Ia berpendapat bahwa jiwa tidak merupakan kumpulan yang sudah jadi dari daya-daya yang memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan dunia luar, tetapi jiwa itu berkembang berkat kegiatan hidup sehari-hari yang berisi saling tukar menukar tersebut.
3. Dasar-dasar sekolah kerja.
Sekolah kerja merupakan bentuk penyelenggaraan konsepsi pendidikan menurut aliran pendidikan sosial.
Mengenai dasar-dasar sekolah kerja dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) Di dalam sekolah kerja anak aktif berbuat mengamati sendiri, mencari jalan sendiri, memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi sendiri.
2) Pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran ialah anak, bukan guru, metode ataupun bahan pelajaran.
3) Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri sendiri dan selalu bertanggung jawab sebagai masyarakat yang baik.
4. Macam-macam Sekolah Kerja.
Beberapa macam sekolah kerja satu dengan lain penekanannya berbeda yaitu :
1) Sekolah kerja sosiologis.
Sekolah kerja sosiologis digerakkan oleh G. Kerschenteiner (1857-1932), bangsa Jerman. Tokoh ini cenderung pada aliran pendidikan sosial ekstern. Tugas pendidikan yaitu memimpin anak menjadi pribadi yang baik. Sekolah ini mempersiapkan anakan menjadi warga negara melalui latihan bekerja dengan pertimbangan sebagai berikut :
- Setiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan pekerjaan atau jabatan negara.
- Setiap orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan negara.
2) Aliran baru dalam pendidikan.
Aliran baru dalam pendidikan yang masing-masing memberikan penekanan yang berbeda terhadap dasar maupun praktek usaha pendidikan yang lebih bersifat “tradisional” atau “maju”.
a. Perenialisme
b. Progresivisme
c. Esensialisme
d. Rekonstruksionalisme
B. Gerakan Pendidikan di Indonesia.
1.
a. Asas-asas Taman Siswa
Pada waktu Taman Siswa didirikan (3 Juli 1922) Ki Hajar Dewantara menegaskan asas-asas yang intinya adalah sebagai berikut :
- Adalah menjadi hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dengan tujuan terbinanya tertib dan damai dalam kehidupan bersama.
- Pengajaran harus membimbing anak menjadi manusia yang merdeka dalam rasa, berfikir, dan mempergunakan tenaganya.
- Pendidikan harus merata untuk seluruh rakyat.
b. Panca Dharma.
Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, Taman Siswa menyesuaikan di dengan pemerintah nasional, khususnya yang berkaitan dengan sikapnya yang non-kooperasi itu. Selanjutnya Taman Siswa mendasarkan pelaksanaan usaha-usahanya pada apa yang disebut Panca Dharma tanpa pengesahan asas-asas tersebut di atas yang tetap menjiwai perguruan tersebut.
Adapun Panca Dharma dan keterangannya tersebut ialah :
2. Dasar Kemanusiaan.
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan adab kemanusiaan manusia. Adab kemanusiaan ini hendaknya mewarnai kehidupan manusia lahir batin baik dalam arti perorangan maupun kelompok.
3. Dasar kebangsaan.
Dalam kebersamaanya manusia yang hidup di Indonesia menumbuhkan kesatuan dan kebudayaan Indonesia. Dasar kebangsaan tidak bertentangan dengan dasar kemanusiaan, bahkan antara keduanya saling mengisi.
4. Dasar Kebudayaan.
Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara bahwa dasar kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dasar kemanusiaan dan dasar kebangsaan.
5. Dasar Kodrat Hidup/Kodrat Alam.
Secara umum arah pendidikan adalah menuju ke kesempurnaan hidup manusia sehingga dapat memenuhi segala keperluan hidup lahir dan batin sebagaimana terkandung pada diri manusia menurut kodrat alam. Jadi pendidikan terluhur adalah terkandung dalam kodrat alam atau kodrat hidup.
6. Dasar Kemerdekaan.
Dasar kemerdekaan merupakan petunjuk bahwa mendidik berarti berusaha membantu anak didik agar menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka pengarahan kegiatannya.
c. Corak Pendidikan Nasional dan Sistem Among
1. Corak Pendidikan Nasional.
Corak Pendidikan Nasional menurut Taman Siswa pada dasarnya bersifat, berisi, dan berorientasi pada kebudayaan kebangsaan. Ini tidak berarti bahwa kebudayaan asing harus ditolak atau dimusuhi, tetapi unsur-unsur kebudayaan asing dapat diterima selama tidak merusak kebudayaan sendiri dan selama unsur-unsur itu bermanfaat bagi perkembangan dan peningkatan kebudayaan sendiri.
2. Sistem Among.
Sistem Among menekankan pengembangan kodrat alam anak didik yang pada dasarnya merdeka. Dalam hal ini pendidik merupakan pamong yang tidak memerintahkan atau memberi saja, melainkan tut wuri handayani, mengikuti dari belakang sambil terus menerus menumbuhkan kekuatan pada anak didik untuk berkemba
d. Tri Pusat/Tri Sentra.
Di Taman Siswa pendidikan harus dilakukan ditiga pusat, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Alam keluarga adalah pusat pendidikan pertama dan terpenting oleh karena sejak timbulnya adab kemanusiaan sampai sekarang kehidupan keluarga itu selalu mempengaruhi perkembangan anak manusi. Alam pergerakan pemuda juga tida boleh memisahkan anak didik dari alam, keluarganya. Alam pergerakan pemuda terutama terpenting sekali pendidikan diri sendiri, memadukan perkembangan kecerdasan, budi pekerti dab perilaku sosial.
2.Ruang Pendidikan INS
INS didirikan pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam Sumatra Barat oleh Moh. Syafei.
a. Tujuan INS.
- Mendidik rakyat kearah kemerdekaan.
- Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
- Berusaha dapat berdiri sendiri dan tidak bersedia menerima bantuan dari orang lain yang mengurangi kebebasan.
b. Sistem Pendidikan INS.
Moh. Syafei seorang pejung, oleh karena itu ia menekankan kepada bangsa Indonesia agar memiliki watak yang merdeka. Syarat untuk membentuk watak yang merdeka yaitu dengan memberikan alat yang akan menyadarkan, bahwa mereka (anak didik, para pemuda, segenap warga negara) mempunyai kemampuan untuk berbuat segala yang berguna bagi kehidupannya sendiri dan bagi orang lain di dalam lingkungan hidupnya.
Sebagai sekolam umum, INS memperlihatkan keunikan tertentu yaitu mempergunakan pekerjaan tangan, kesenian, koperasi, olah raga, dan kegiatan-kegiatan lainnya sebagai alat pendidikan, seperti berikut :
1) Pendidikan keterampilan, yang antara lain meliputi pertukangan kayu, besi, keramik, listrik, pateri.
2) Pendidikan peratanian yang meliputi bercocok tanam, peternakan, perikanan yang ditunjang oleh tehnologinya.
3) Pendidikan Karya Seni yang meliputi seni rupa, drama, musik, tari, olah raga.
4) Pendidikan manajemen yang meliputi kegiatan seperti pengelolaan koperasi, perpustakaan, asrama.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa INS bukanlah sekolah kejuruan, melainkan sekolah umum yang mempergunakan pekerjaan tangan, kesenian dan olah raga dan kegiatan kreatif lainnya sebagai alat pendidikan bagi penyaluran pembawaan anak didik. Perlu dikemukakan bahwa INS Kayutanam adalah suatu lembaga pendidikan yang hendak membiayai dirinya sendiri dari hasil sendiri. Adapun beberapa cara yang ditempuh untuk mencari biaya adalah mengadakan penjualan hasil karya murid, mengadakan pertandingan olah raga dengan menjual tiket murah, dan menolong warga sekitar yang membutuhkan pertolongan (misalnya membuat rumah dengan ongkos yang mura).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar