Jumat, 20 Januari 2012

MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA MELALUI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Budaya seseorang akan tercermin dalam berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu, komunikasi akan berlangsung damai apabila masing-masing komunikan memiliki pengertian yang mendalam tentang latar budaya masing-masing. Ada banyak hal yang dapat dipelajari diantaranya persepsi, serta bentuk-bentuk komunikasi baik verbal maupun nonverval.

PENDAHULUAN
Setiap hari dimanapun kita berada tidak bisa terlepas dari komunkasi. Namun dalam melakukan komunikasi tidak setiap orang terampil melakukannya dengan efektif. Hal ini terlebih lagi bila orang yang terlibat dalam komunikasi itu berbeda budaya, kesalahan dalam memahami pesan, perilaku atau peristiwa komunikasi tidak bisa dihindari. (Khotimah, 2000:47). Kesalahan ini dapat smenyebabkan terjadinya suasana yang tidak diharapkan bahkan dapat menimbul pertikaian yang menjurus munculnya konflik sosial.
Budaya yang dimiliki seseorang sangat menentukan bagaimana cara kita berkomunikasi, artinya cara seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain apakah dengan orang yang sama budaya maupun dengan orang yang berbeda budaya, karakter budaya yang sudah tertanam sejak kecil sulit untuk dihilangkan, karena budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi (Tubbs-Sylvia Moss, 1996:237). Dengan demikian konstruksi budaya yang dimiliki oleh seseorang itu, diperoleh sejak masih bayi sampai ke liang lahat, dan ini sangat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku orang yang bersangkutan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Bahkan benturan persepsi antar budaya sering kita alami sehari-hari, dan bilamana akibatnya fatal kita cenderung menganggap orang yang berbeda budaya tersebut salah, aneh tidak mengerti maksud kita. Hal ini terjadi karena, kita cenderung memandang perilaku orang lain dalam konteks latar belakang kita sendiri dan karena bersifat subyektif.
Untuk menghindari kesalahpahaman sehingga tidak menimbulkan benturan persepsi antarbudaya diantara orang yang berbeda budaya, maka kita dituntut secara obyektif untuk mengenali perbedaan dan keunikan budaya sendiri dan orang lain dengan mempelajari berbagai karakteristik budaya, diantaranya yaitu: (1) komunikasi dan budaya; (2) penampilan dan pakaian; (3) makanan dan kebiasaan makan; (4) waktu dan kesadaran waktu (5) penghargaan dan pengakuan; (6) nilai, dan norma; (7) rasa diri dan ruang; (8) proses mental dan belajar, dan; (9) kepercayaan dan sikap (Khotimah, 2000:52). Sementara itu menurut Mulyana (2003:34) bahwa untuk menghindari kesalahpahaman dalam melakukan komunikasi dengan orang yang berbeda budaya, kita harus menjadi komunikator yang efektif, karena hubungan dalam konteks apapun harus dilakukan lewat komunikasi. Lebih lanjut dijelaskan oleh Mulyana (2003) untuk menjadi komunikator yang efektif, seseorang harus memahami proses komunikasi dan prinsip-prinsip dasar komunikasi yang efektif.
Menurut Mulyana (2002:36) bahwa untuk mencapai komunikasi yang efektif, khususnya dengan orang yang berbeda budaya yang harus kita lakukan adalah: (1) kita harus selalu menunda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita tersebut seringkali bersifat subyektif, dalam spengertian berdasarkan persepsi kita sendiri yang dipengaruhi oleh budaya kita atau dengan kata lain, jangan biarkan stereotif menjebak dan menyesatkan kita ketika kita berkomunikasi dengan orang lain; (2) kita harus berempati dengan mitra komunikasi kita, berusaha menempatkan diri kita pada posisinya. Gunakan sapaan yang layak sesuai dengan budayanya; (3) kita dituntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik, bukan sebagai anggota dari suatu kategori rasial, suku, agama atau sosial tertentu; (4) kita harus menguasai setidaknya bahasa verbal dan nonverbal dan sistem nilai yang mereka anut.
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
Berbicara masalah komunikasi antar budaya tidak dapat pisahkan dari pengertian kebudayaan (budaya). Komunikasi dan kebudayaan tidak hanya sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan untuk merumuskan budaya saja, Godykunts dan Yun Kim (1992:3) menyebut bahwa “ more than one hundred defenition of the term have been sugeested”. Sementara komunikasi itu sendiri begitu beragam dan kontroversi dalam pendefenisiannya, atau dengan kata lain di antara para ahli komunikasi belum ada keseragaman. Tapi yang jelas menurut William B. Hart II (dalam Liliweri, 2003:8) menyatakan bahwa studi komunikasi antar budaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi. Bahkan Edward T Hall (dalam Khotimah, 2000:48) dengan tegas menyatakan bahwa “culture is communication and is cultur”.
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosioekonomi)(Mulyana, 2001:v). Sedangkan menurut Liliweri (2003:9) komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan pesan yang dilakukan seseorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek tertentu. Sementara itu menurut Dodd (1991:5) bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
Berdasar pendapat yang dikemukakan oleh Mulyana dan Liliweri tersebut memberi pemahaman bahwa komunikasi antar budaya terjadi antara orang-orang yang berbeda budaya, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial, atau bahkan jenis kelamin, serta berkaitan erat dengan komunikasi insani (human communication), sebagaimana yang diungkapkan oleh Somavar dan Porter (1991:10), yang menyatakan bahwa “ to understands intercultural interaction one must first understand human communication”
Dalam hal komunikasi antar budaya Fisher (dalam Mulyana dan Rakhmad, 2001:45) juga mengemukakan bahwa selain memandang kedudukan komunikator dan komunikan maka terhadap faktor lain yaitu pesan. Pesan ditujukan dalam perilaku komunikasi antar budaya bukan sekedar pesan karena pengaruh folkways pribadi tetapi pengaruh folkways masyarakatnya. Pesan itu sama dengan simbol budaya masyarakat yang melingkupi suatu pribadi tertentu ketika ia berkomunikasi antarbudaya. Dengan demikian sikap, perilaku, tindakan seseorang dalam komunikasi antar budaya bukan merupakan sikap, perilaku, tindakan pribadi melainkan simbol dari masyarakatnya. Pesan dalam komunikasi antar budaya merupakan simbol-simbol yang di dalamnya terkandung karakteristik komunikator yang terdengar atau terlihat dalam pengalaman proses komunikasi antar pribadi di antara mereka yang berbeda etniknya.
Dalam konunikasi antarbudaya menurut Liliweri (2003:12) semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif, jadi harus ada jaminan terhadap akurasi interpretasi pesan-pesan verbal maupun nonverbal. Hal ini disebabkan ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal, misalnya derajat pengetahuan, derajat kesulitan dalam peramalan, derajat ambiguitas, kebingungan, suasana misterius yang tak dapat dijelaskan, tidak bermanfaat bahkan tidak bersahabat.
Karena itulah menurut Schraman (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2001:6-7), untuk mencapai komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yaitu: (1) menghormati anggota budaya lain sebagai manusia; (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang dikehendaki; (3) menghormati hak anggota budaya lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak; dan (4) komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain.
Selanjutnya DeVito (1997:480-481), menggunakan istilah komunikasi antarbudaya secara luas untuk mencakup semua bentuk komunikasi di antara orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda selain juga secara sempit yang mencakup bidang komunikasi antar kultur yang berbeda, sebagai berikut: (1) Komunikasi antarbudaya – misalnya, antar orang Cina dan Portugis, atau antara orang Perancis dan Norwegia; (2) Komunikasi antarras yang berbeda (kadang-kadang dinamaka komunikasi antarras), - misalnya, antara orang kulit putih dangan orang kulit hitam; (3) Komunikasi antar kelompok etnis yang berbeda )kadang-kadang dinamakan komunikasi antar etnis) – misalnya, antara orang Amerika keturunan Italia dengan orang Amerika keturunan Jerman; (4) Komunikasi antar kelompok agama yang berbeda – misalnya, antara orang katolik Roma dengan Epsikop, atau antara orang Islam dan orang Yahudi; (5) Komunikasi antara bangsa yang berbeda (kadang-kadang dinamakan komunikasi internasional)- misalnya, antara Amerika Serikat dan Meksiko, atau antara Perancis dan Italia; (6) Komunikasi antara subkultur yang berbeda dan kultur yang dominan-misalnya, antara kaum homeseks dan kaum heteroseks, atau antara kaum manula dan kaum muda; (7) Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda – antara pria dan wanita.
Dari berbagai uraian itu, dapat memberi pemahaman bahwa orang-orang yang dipengaruhi kultur dan subkultur yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda. Perbedaan kultur dan subkultur menjadi sumber untuk memperkaya pengalaman komunikasi dan bukan sebagai penghambat dalam interaksi. Untuk itu perlu memahami dan menghargai perbedean-perbedaan tersebut.
Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami kominikasi antarbudaya, yaitu persepsi, komunikasi verbal, dan komunikasi nonverbal. Ketiga elemen ini merupakan bangunan dasar yang menyebabkan kegagalan, sekaligus keberhasilan komunikasi antar budaya.
1. Persepsi
Persepsi adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas di sekelilingnya. Persepsi sosial tidaklah sesederhana persepsi terhadap lingkungan fisik. Persepsi sosial, yang muncul dalam komunikasi mengandung beberapa prinsip penting (Mulyana, 2003:176), yaitu: (a) persepsi berdasar pengalaman; (b) persepsi bersifat selektif; (c) persepsi bersifat dugaan; (d) persepsi bersifat evaluatif; dan (e) persepsi bersifat kontekstual.
a. Persepsi berdasarkan pengalaman
Persepsi manusia terhadap seseorang, objek, atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman/pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa. Cara seseorang menilai wanita ideal, suami ideal, pekerjaan, sekolah, perilaku yang pantas, cara berpakaian yang lazim dan lain sebagainya sangat tergantung pada apa yang telah di ajarkan oleh budaya dimana orang tersebut berada.
Ilustrasi berikut ini memperjelas prinsip ini. Orang Barat yang terbiasa makan dengan sendok, garpu dan pisau akan menganggap orang Timur yang makan dengan tangan sebagai hal jorok, meskipun alat-alat makan yang mereka gunakan sudah sering digunakan orang lain, semantara orang Timur yang makan yang selalu menggunakan tangannya sendiri yang belum pernah digunakan orang lain. Di Barat umumnya, juga sebagian besar wilayah Indonesia, bersendawa ketika atau setelah makan adalah perilaku yang tidak sopan, bahkan di Swedia seorang tamu yang bersendawa seusai makan dapat membuat nyonya rumah pingsan, sementara di Arab, Cina, Jepang, dan Fiji, juga di Aceh dan Sumatera Barat, bersendawa malah di anjurkan karena hal itu menanamkan penerimaan makanan dan kepuasan makan. Demikian juga dalam berbicara dengan intonasi yang tinggi, bagi orang Jawa dinilai kurang begitu sopan, namun beberapa kultur seperti orang Sulawesi, Sumatera, Kalimantan adalah sebuah kewajaran.
b. Persepsi Bersifat Selektif
Setiap saat seseorang akan diberondongi oleh jutawan rangsangan inderawi. Untunglah ada atensi pada manusia, sehingga orang hanya akan menangkap rangsangan-rangsangan yang menarik perhatiannya saja. Ada dua faktor yang mempengaruhi atensi ini, yaitu (1) faktor internal; dan (2) faktor eksternal. Faktor internal antara lain dipengaruhi oleh faktor biologis (lapar, haus dan sebagainya); faktor fisiologis (tinggi, pendek, gemuk, kurus, sehat, sakit, lelah, penglihatan atau pendengaran kurang sempurna, cacat tubuh dan sebagainya); dan faktor-faktor sosial budaya seperti gender, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, peranan, status sosial, pengalaman masa lalu, kebiasaan dan bahkan faktor-faktor psikologis seperti kemauan, keinginan, motivasi, pengharapan dan sebagainya. Semakin besar perbedaan aspek-aspek tersebut secara antar individu, semakin besar perbedaan persepsi mereka mengenai realitas.
Faktor eksternal yang mempengaruhi orang dalam melakukan persepsi terhadap suatu obyek, yakni atribut-atribut objek yang dipersepsi seperti gerakan, intensitas, kontras, kebaruan, dan perulangan objek yang dipersepsi. Suatu obyek yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada objek yang diam. Misalnya kita lebih menyenangi televisi sebagai gambar bergerak dari pada komik sebagai gambar diam. Demikian juga dengan suatu rangsangan yang intensitasnya menonjol juga akan menarik perhatian, seseorang yang bersuara paling keras, yang tubuhnya paling gemuk, yang kulitnya hitam, atau yang wajahnya paling cntik akan menarik perhatian kita.
Dalam pada itu, terhadap orang atau objek yang penampilannya lain dari pada yang lain (kontras), juga akan menarik perhatian, seperti seorang bule, orang berkulit hitam di antara orang-orang yang berkulit putih, seorang wanita yang berjilbab, wanita berbikini di antara wanita-wanita lain yang berpakaian lebih sopan di pantai, pemuda yang sebelah telinganya beranting di antara teman-temannya yang tidak berpenampilan demikian. Demikian juga dengan hal kebaruan merupakan suatu unsur objek yang menimbulkan perhatian, tampak jelas ketika kita melihat seorang mahsiswa baru yang lebih menarik perhatian dari pada mahasiswa lama yang sudah dikenal. Pun kita cenderung memperhatikan sesuatu yang baru misalnya baju baru yang dipakainya, mobil baru yang dibawanya.
Suatu peristiwa yang selalu berulang-ulang jelas lebih potensial untuk diperhatikan, sehingga memungkinkan untuk mudah mengingat terhadap objek yang menjadi perhatian. Seperti iklan-iklan sebuah produk yang ditayangkan secara berulang-ulang di televisi, akan lebih mendorong untuk membeli barang yang di iklankan.
c. Persepsi Bersifat Dugaan
Data yang diperoleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap, seringkali menyebabkan persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. Proses ini menyebabkan orang menafsirkan suatu objek lebih lengkap. Misalnya kita melihat sebuah pesawat terbang di angkasa, kita tidak melihat awak pesawat dan penumpangnya. Namun kita telah berulangkali melihat pesawat terbang di angkasa yang menunjukkan bahwa setidaknya terdapat awak pesawat yang menerbangkan pesawat itu. Demikian juga ketika kita melihat bila ada sebuah kapal laut dari kejauhan, kita langsung membayangkan ada sejumlah orang di dalamnya, ada sejumlah mobil dan peralatan kapal seperti skoci dan sebagainya.
d. Persepsi Bersifat Evaluatif
Kebanyakan orang menjalani hari-hari mereka dengan perasaan bahwa apa yang mereka persepsi adalah nyata. Mereka beranggapan bahwa menerima pesan dan menafsirkannya sebagai suatu proses yang alamiah. Sehingga derajat tertentu anggapan itu benar, akan tetapi kadang-kadang alat-alat indra dan persepsi kita menipu kita sehingga kita juga ragu seberapa dekat persepsi dengan realitas yang sebenarnya. Atau dengan kata lain bahwa dalam mempersepsi suatu objek tidak akan pernah terjadi secara objektif, hal ini karena dalam mempersepsi sangat dipengaruhi pengalaman masa lalu dan kepentingan pribadi.
Persepsi bersifat pribadi dan subyektif. Menurut Andrea I. Rich (dalam Mulyana, 2003:189) persepsi pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologis undividu alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi. Misalnya bila kita pendiam, kita cenderung menilai orang yang periang sebagai orang yang supel dan mudah bergaul, dan sebaliknya.
e. Persepsi Bersifat Kontekstual
Sutau rangsangan dari luar harus di organisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks yang melingkupi kita ketika dalam melihat suatu kejadian atau objek sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan oleh karenanya juga persepsi kita. Persepsi besifat kontekstual ini menggunakan prinsip-prinsip: (1) kontekstual dalam pengertian struktuir objek, atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapan; (2) kontekstual dalam arti, kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan, atau kejadian misalnya ketika kita mengisi teka-teki silang (TTS), prinsip ini jelas berlaku.
Menurut Somavar dan Porter (1991:106); Mulyana (2003:197) bahwa ada enam unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yaitu: (1) kepercayaan (beliefs), nilai (values), dan sikap (attitudes); (2) pandangan dunia (worldview); (3) organisasi sosial (social organization); (4) tabiat manusia ( human nature); (5) orientasi kegiatan (activity orientation); (6) persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others).
Kepercayaan adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau peristiwa punya ciri atau nilai tertentu, dengan atau tanpa bukti. Kepercayaan sifatnya tidak terbatas, misalnya Tuhan itu Esa, Adam adalah manusia pertama di muka bumi, AID adalah penyakit berbahaya atau kemampuan berbahasa Inggris itu penting untuk meniti karier. Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan yang mencakup kegunaan, kebaikan, estetika, dan kepuasan. Jadi nilai bersifat normatif, memberitahu suatu anggota budaya mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, siapa yang harus dibela, apa yang harus diperjuangkan, apa yang mesti kita takuti, dan sebagainya.
Nilai biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang merupakan bagian dari lingkungan budaya, karena itu nilai bersifat stabil dan sulit berubah. Misalnya, berdasarkan pandangan mereka yang individualis, orang Barat lebih mengagung-agungkan privasi dari pada orang-orang Timur.
Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan, kehidupan, kematian, alam semesta, kebenaran, materi (kekayaan), dan isu-isu filosofis lainnya yang berkaitan dengan kehidupan (Somavar dan Porter, 1991:84). Pandangan dunia mencakup agama dan ideologi. Berbagai agama dunia punya konsep ketuhanan dan kenabian yang berbeda. Ideologi-ideologi berbeda juga punya konsep berbeda mengenai bagaimana hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Maka pandangan dunia merupakan unsur penting yang mempengaruhi persepsi seseorang ketika berkomunikasi dengan orang lain, khususnya yang berbeda budaya (Mulyana, 2003:202).
Organisasi sosial apakah yang sifatnya formal ataupun informal, juga mempengaruhi kita dalam mempersepsi dunia dan kehidupan ini yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku kita. Menurut Mulyana (2003:204) lembaga informal yang mempengaruhi persepsi dan perilaku kita adalah keluarga, sedangkan lembaga formal adalah pemerintah. Perangkat aturan meskipun tidak tertulis yang di tetapkan keluarga sangat mempengaruhi kita dalam berkomunikasi. Demikian juga perangkat aturan yang di keluarkan oleh pemerintah baik tertulis maupun tidak juga memiliki pengaruh yang sama dalam persepsi dan perilaku kita. Pemerintah melalui aturan-aturannya, himgga derajat tertentu menetapkn norma komunikasi warganya baik komunikasi langsung maupun komunikasi bermedia, termasuk komunikasi massa.
Setiap negara biasanya memiliki suatu sistem komunikasi tertentu, di negara Barat umumnya menganut sistem komunikasi lebertarian yaitu orang-orang berkomunikasi lebih bebas. Negara-negara otoriter media massa masih dikendalikan pemerintah, orang tidak bebas menyiarkan informasi kepada masyarakat luas, bahkan penulisan sejarahpun harus disetujui oleh pemerintah yang sah.
Di samping kedua lembaga tersebut menurut Mulyana (2003:205) yang juga dapat mempengaruhi persepsi kita adalah lembaga pendidikan (sekolah, universitas), komunitas agama (dalam islam terdapat Sunni, Syiah, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis dan dalam Kristen terdapat Katolik, Protestan, Advent, Pantekosta, Saksi Yohava), komunitas atnik (Jawa, batak Minangkabau, Sunda, Melayu), kelas sosial dan partai politik.
Pandangan kita tentang siapa kita, bagaimana sifat atau watak juga mempengaruhi cara kita mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. Kaum muslim misalnya, berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya seperti malaikat, jin, hewan dan tumbuh-tumbuhan, karena manusia diberkahi oleh akal. Namun kemuliaan itu menurut Mulyana (2003:206) hanya dapat diperoleh bilamana manusia beriman dan beramal saleh (mempergunakan akalnya dengan cara benar), sebaliknya bilamana dalam kegiatannya selalu menurut hawa nafsu, maka mereka adalah makhluk yang paling rendah derajatnya.
Demikian juga dalam memandang manusia, bahwa kaum muslim berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan suci bersih, sementara golongan Kristen berpendapat bahwa manusia itu mewarisi dosa Adam dan Hawa. Sebagian kelompok lagi punya pendapat yang berebeda-beda tentang manusia, misalnya ada golongan yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik, atau pada dasarnya jahat. Dan ada juga yang punyai teori yang berbeda-beda mengenai apa yang membuat manusia memiliki watak tertentu. Pandangan manusia mengenai hal ini akan mempengaruhi persepsi, dari pandangan yang primitif-irasional, ilmiah hingga yang religius.
Orientasi manusia mengenai bagaimana hubungan manusia dengan alam juga mempengaruhi persepsi dalam memperlakukan alam. Mereka yang memandang manusia sebagai penguasa alam dan penakluk alam akan memanfaatkan alam demi kesejahteraan, sedangkan mereka yang percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam atau bersatu dengan alam, akan berusaha bertindak selaras dengan alam, memanfaatkan alam, namun berupaya memeliharanya agar tidak rusak atau punah.
Aspek lain yang juga mempengaruhi persepsi kita adalah pandangan kita tentang aktivitas, misalnya dalam budaya-budaya tertentu pandangan terhadap siapa seseorang itu (raja, anak presiden, pejabat, bergelar) lebih penting dari pada apa yang dilakukannya. Sebaliknya ada budaya yang memandang prestasinya lebih penting ketimbang siapa dia, misalnya di Barat.
Masyarakat Timur, pada umumnya adalah masyarakat kolektivitas. Dalam budaya kolektivitas, diri (self) tidak bersifat unik atau otonom, melainkan lebur dalam kelompok (keluarga, klan, kelompok kerja, suku bangsa dan sebagainya). Sedangkan dalam budaya individualis (Barat) bersifat otonom. Akan tetapi suatu budaya sebenarnya dapat saja memiliki kecenderungan individualis dan kolektivis, seperti orientasi kegiatan salah satu biasanya lebih menonjol (Mulyana, 2003:208).
Lebih lanjut dikatakan oleh Mulyana (2003) bahwa dalam masyarakat kolektivis, individu terikat oleh lebih sedikit kelompok, namun keterikatan pada kelompok lebih kuat dan lebih lama. Selain itu hubungan antarindividu dalam kelompok bersifat total, sekaligus di lingkungan domestik dan di ruang publik. Konsekwensinya perilaku individu sangat dipengaruhi kelompoknya. Individu tidak dianjurkan untuk menonjol sendiri. Keberhasilan individu adalah keberhasilan kelompok.
Berbeda dengan manusia individualis, orang individualis kurang terikat pada kelompoknya, termasuk keluarga luasnya. Manusia individualis lebih terlibat dalam hubungan horisontal dari pada hubungan vertikal. Mereka lebih membanggakan prestasi dari pada askripsi, seperti jenis kelamin, usia, nama keluarga dan sebagainya (Landis & Brislin, 1988 : 269). Hubungan diantara sesama mereka sendiri tampak lebih dangkal dibandingkan dengan hubungan antara orang-orang kolektivitas, juga kalkulatif. Hubungan akan bertahan lama sejauh menguntungkan mereka secara material (Mulyana, 2003:210).
2. Komunikasi Verbal
Mulyana (2003:237-238) mengatakan bahwa bahasa sebagai sistem kode verbal, terbentuk atas seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Andrea L. Rich (dalam Mulyana, 2003:251) mengatakan bahwa bahasa sendiri terikat oleh budaya. Karenanya, menurut hipotesis Sapir-Whorf, sering juga disebut Teori Relativitas Linguistik, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman bathin, dan kebutuhan pemakainya. Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhi pemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan, dan alam semesta di sekitarnya dengan cara yang berbeda, dan karenanya berperilaku secara berbeda.
Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Andrea L Rich tersebut, menurut Ohoiwutun (1997:99-107) dalam komunikasi antarbudaya yang harus diperhatikan yaitu: (1) kapan orang berbicara; (2) apa yang dikatakan; (3) hal memperhatikan; (4) intonasi; (5) gaya kaku dan puitis; dan (6) bahasa tidak langsung.
Banyak kejadian sehari-hari karena kurang memperhatikan perebedaan tersebut misalnya akibat mengucapkan kata-kata tertentu, yang dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda budaya, menyebabkan kesalahanpahaman, kebencian, dan keretakan hubungan antarmanusia.

3. Komunikasi Nonverbal
Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata (Mulyana,2003:308). Sebagai kata-kata kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Sedikit saja isyarat nonverbal yang merupakan bawaan. Kita semua lahir dan mengetahui bagaimana tersenyum, namun dimana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan emosi ini dipelajari, dan karenanya dipengaruhi konteks dan budaya.
Simbol-simbol nonverbal sangat sulit untuk ditafsirkan bila dibandingkan dengan simbol-simbol verbal. Walaupun demikian kita sering melihat bahwa bahasa nonverbal cenderung selaras dengan bahasa verbal, misalnya setiap gerakan sinkron dengan ucapan, seperti kita menyatakan setuju selalu disertai dengan anggukan kepala.
Menurut Liliweri (2003:98-101) ketika berhubungan dengan menggunakan pesan nonverbal ada beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya yaitu:
1. Kinestik, adalah yang berkaitan dengan bahasa tubuh, yang terdiri dari posisi tubuh, orientasi tubuh, tampilan wajah, gambaran tubuh. Tampaknya ada perbedaan antara arti dan makna dari gerakan-gerakan tubuh atau anggota tubuh yang ditampilkan
2. Okulesik, adalah gerakan mata dan posisi mata. Ada perbedaan makna yang ditampilkan alis mata diantara manusia. Setiap variasi gerakan mata atau posisi mata menggambarkan suatu makna tertentu, seperti kasih sayang, marah dan sebagainya.
3. Haptik, adalah tentang perabaan atau memperkenankan sejauhmana seseorang memegang dan merangkul orang lain.
4. Proksemik, adalah tentang hubungan antar ruang, antar jarak, dan waktu berkomunikasi, misalnya makin dekat artinya makin akrab, makin jauh artinya makin kurang akrab.
5. Kronemik, adalah tentang konsep waktu, sama seperti pesan non verbal yang lain maka konsep tentang waktu yang menganggap kalau suatu kebudayaan taat pada waktu maka kebudayaan itu tinggi atau peradabannya maju. Ukuran tentang waktu atau ketaatan pada waktu kemudian yang menghasilkan pengertian tentang oramg malas, malas bertanggungjawab, orang yang tidak pernah patuh pada waktu.
6. Tampilan, Appearance yaitu bagaimana cara seorang menampilkan diri telah cukup menunjukkan atu berkorelasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang pribadi. Termasuk di dalamnya tampilan biologis dan tampilan yang dicari atau di bentuk. Tampilan biologis misalnya warna kulit, warna dan pandangan mata, tekstur dan warna rambut, serta struktur tubuh. Ada stereotip yang berlebihan terhadap perilaku seorang dengan tampilan biologis. Model pakaian juga mempengaruhi evaluasi kita terhadap orang lain.
7. Posture, adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk. Cara bagaimana orang itu duduk dan berdiri dapat diinterpretasi bersama dalam konteks antarbudaya. Misalnya kalau orang Jawa merasa tidak bebas jika berdiri tegak di depan orang yang lebih tua sehingga harus merunduk hormat, sebaliknya duduk bersila di depan orang yang lebih tua merupakan sikap yang sopan.
8. Pesan-pesan paralinguistik antarpribadi adalah pesan komunikasi yang merupakan gabungan antara perilaku verbal dan non verbal. Paralinguistik terdiri dari satu unit suara, atau gerakan yang menampilkan maksud tertentu dengan makna tertentu. Paralinguistik juga berperan besar dalam komunikasi antarbudaya.
9. Simbolisme dan komunikasi non verbal yang pasif, beberapa diantaranya adalah simbolisme warna dan nomor.







PENUTUP
Setiap orang dari kita adalah unik, artinya sekalipun dibesarkan dalam lingkungan budaya yang sama, belum tentu setiap orang dalam kelompok tersebut itu akan persis sama dalam berpikir dan berperilaku, karena akan ada sub-sub kultur yang lebih spesifik yang sangat berpengaruh terhadap perilakunya dalam berkomunikasi. Budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya (Mulyana, 2003:4). Apa yang kita bicarakan, bagaimana kita membicarakannya, apa yang kita lihat, perhatikan, atau abaikan, bagaimana kita berpikir, dan apa yang kita pikirkan dipengaruhi oleh budaya. Pada gilirannya, apa yang kita bicarakan, bagaimana kita membicarakan, apa yang kita lihat turut membentuk, menentukan, dan menghidupkan budaya kita. Sehingga Edward T. Hall (dalam Mulyana, 2003:4-5) menyatakan bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Bahkan Porter dan Samovar (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2001:34) menyatakan bahwa budaya tak hidup tanpa komunikasi dan komunikasi pun tak hidup tanpa budaya.










DAFTAR PUSTAKA
De Vito, Josep A. 1997. Komunikasi Antar Manusia, Terjemahan Agus Maulana, Jakarta: Profesional Books.
Dodd, Charley, H. 1991. Dynamics of intercultural Communication, Wm. C.Brown Publishers, Dubuque, IA/USA.
Effendi, Onong Uchjana. 1993. Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
-------------------------------. 1995. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Gudykunst, W.B, & Yun Yun, Kim 1992. Communicating with strangers: An approach to intercultural communication (Ed), New York: McGraw Hill, Inc
Khotimah, Emma. 2000. Memahami Komunikasi Antarbudaya, Dalam: Jurnal Editor, Vol, 1 No. 1, Bandung: Unisba.
Landis, D. & Brislin, R. (Ed). 1988. Handbook of intercultural training, Vols 1-3, New York: Pergamon Press.
Liliweri, Alo. 203. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulyana, Deddy. 1996. Mengapa Kita Mempelajari Komunikasi: Sebuah Pengantar, Dalam: Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi, Buku Pertama, Bandung: Remaja Rosdakarya.
----------------------. 2001. Mengapa dan Untuk Apa Kita Mempelajari Komunikasi Antar Budaya, Dalam: Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Oang Berbeda Budaya, Editor: Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Bandung: Remaja Rosdakarya.
----------------------. 2003. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, cetakan kelima, Bandung: Remaja Rosdakarya.
---------------------. 2002. Komunikasi Jenaka, Parade Anekdot, Humor, dan Pengalaman Konyol, Cetakan kedua, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ohoiwutun. 1997. Sosiolinguistik, Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan, Jakarta: Visipro.
Somavar, Larry and Porter, Richard E, 1991. Communication Between Cultures, Belmont: C.A. Wadsworth.
Schramm, Wilbur. 2001. Perihal Membangun Jembatan, Dalam: Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, Editor: Deddy Mulyana dan Jalalluddin Rakhmat, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rabu, 18 Januari 2012

Strategi Konseling dan Kegunaannya

1.      DEFINISI STRATEGI KOGNITIF
 Strategi kognitif adalah operasi-operasi atau prosedur-prosedur mental yang bisa digunakan individu untuk mendapatkan, menahan, serta mengambil kembali berbagai pengetahuan dan kepandaian (Rigney, 1978 dalam Jonassen (1987).  Strategi kognitif mencerminkan bagaimana seseorang belajar, mengingat, dan berfikir serta bagaimana memotivasi diri mereka sendiri (Weinstein dan mayer, 1985 dalam Jonassen (1987). Jonassen (1987) berkesimpulan bahwa strategi-strategi kognitif merepresentasikan kegiatan-kegiatan kognitif yang sangat luas yang mendukung pembelajaran seseorang. Dengan demikian, jelas bahwa kegunaan strategi kognitif sangat penting bagi siapa pun untuk mencapai kompetensi yang baik.

2.      DEFINISI STRATEGI MODELING
Strategi modeling adalah suatu proses memamerkan perilaku seseorang atau kelompok, baik berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola, cara berenang, cara melafalkan kata dalam bahasa inggris dan sebagainya, dengan tujuan untuk memperoleh tingkah laku baru dan memperkuat perilaku yang sudah ada. Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan tentang pengertian Strategi Modeling Partisipan sebagai suatu proses belajar mengajar dengancara mengamati tingkah laku individu atau kelompok melalui kegiatan demonstrasi dengan ketentuan adanya seseorang sebagai model, ada tingkahlaku yang diamati ada pihak pengamat yang mengamati tingkah laku untuk menghasilkan tingkah laku yang baru. Strategi Modeling Partisipan adalah strategi yang memanfaatkan proses belajar mengajar melalui pengamatan, dimana perilaku seseorang atau kelompok berperan sebagai model untuk merangsang pikiran, sikap atau perilaku pengamat tindakan model. Beberapa orang lebih trainable dari padaeducable, artinya nalar tidak begitu jalan tetapi pengamatan dan meniru lebih unggul.

3.      DEFINISI STRATEGI BERHENTI BERFIKIR
Teknik thought stopping merupakan salah satu teknik dalam pendekatan konseling kognitif behavioral yang dapat digunakan untuk mengubah pikiran negatif seseorang menjadi pikiran yang positif. Pikiran yang positif dapat memunculkan tingkah laku positif.

Thought stopping merupakan keterampilan memberikan instruksi kepada diri sendiri (swaperintah) untuk menghentikan alur pikiran negatif melalui penghadiran rangsangan atau stimulus yang mengagetkan. Mengapa diperlukan stimulus yang mengagetkan, didasarkan pada pandangan bahwa pikiran itu ketika beroperasi akan berjalan seperti aliran sungai. Aliran pikiran ini dapat dibuyarkan atau dihambat jalannya sehingga terputus melalui cara pemblokiran. Secara sederhana dapat diberikan contoh yang biasa terjadi pada orang yang sedang melamun. Ketika melamun, kita terbawa oleh aliran angan-angan. Begitu ada yang mengagetkan, misalnya: ada yang menegur, ”Heh ngelamun aja!” atau ada yang mendorong punggung kita dengan mengatakan, ”Harri giinih ngelamunria” maka kita kembali pada kesadaran, melamun tidak berlanjut. Begitu kan menurut pengalaman Anda? Demikian halnya dengan pikiran negatif yang mengganggu seseorang. Pemunculannya dapat diblokir atau dikacaukan alirannya dengan instruksi ”TIDAK” atau ”STOP”. Maksudnya setiap muncul pikiran negatif yang mengganggu yang menimbulkan masalah emosional dan perilaku dapat kita hentikan dengan menyengaja menghentikan dengan mengatakan tidak atau stop pada diri kita sendiri. Jika hal itu dilatihkan dan dilakukan berulang-ulang, maka akan terbentuk semacam mekanisme kendali pada diri kita setiap kali muncul pikiran negatif. Pikiran negatif itu dengan serta merta berhenti dan tidak mengganggu emosi dan kewajaran perilaku kita lagi.

4.      TEKNIK ASERTIF
a.       Definisi Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung (lutfifauzan). Asertif adalah suatu pernyataan tentang perasaan, keinginan dan kebutuhan pribadi kemudian menunjukkan kepada orang lain dengan penuh percaya diri (Taumbmann:1976). Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain (Wahyuningsih, dkk). Corey (1995: 87) menyatakan bahwa asumsi dasar dari pelatihan asertifitas adalah bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut.
b.      Digunakan Untuk
·         Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan.
·         Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang membiarkan orang lain memanfaatkannya.
·         Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, kepercayaan, dan perasaan-perasaannya.
·         Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon positif yang lain.
·         Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri.
·         Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
·         Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
·         Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit.

5.      DEFINISI STRATEGI SELF MANAGEMENT
Ada beberapa definisi dari self management, diantaranya “Self-management adalah proses dimana kilien mengarahkan sendiri perubahan tingkah lakunya dengan srategi terepeutik atau beberapa kombinasi strategi” (Cormier&Cormier, 1985:519). Self-management sebagai kontrol dari respon tertentu melalui stimulus yang dihasilkan dari respon lain pada individu yang sama yaitu melalui stimulus yang dibangkitkan oleh diri sendiri (Sydney W. Bijou, 1984). Mahoney&Thoresen mengatakan self-management berkenaan dengan kesadaran dan keterampilan untuk mengatur keadaan sekitarnya yang mempengaruhi tingkah laku individu (dalam Lutfi Fauzan, 1992:35). Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa. Teknik perubahan perilaku self management merupakan salah satu dari penerapan teori modifikasi perilaku dan merupakan gabungan teori behavioristik dan teorikognitif social. hal ini merupakan hal baru dalam membantu konseli menyelesaikan masalah karena didalam tekhnik ini menekankan pada konseli untuk mengubah tingkah laku yang dianggap merugikan yang sebelumnya menekankan pada bantuan orang lain. Self management dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar, mengontrol berat badan, mengurangi kebiasaan merokok, kebiasaan belajar yang buruk, kecemasan, dan mengurangi kebiasaan berkata jorok.

6.      DEFINISI STRATEGI PENGGUNAAN KURSI KOSONG
-          Definisi Kursi kosong merupakan salah satu teknik terapy Gestalt yang banyak diterapkan dalam terapy ini di kembangkan oleh Frederick “Fritz” Pearls (Ramya, 2007). Teknik kursi kosong merupakan teknik permainan peran dimana klien memerankan dirinya sendiri dan peran orang lain atau beberapa aspek kepribadiannya sendiri yang dibayangkan duduk/berada dikursi kosong. Menurut Joyce & Sill (dalam Safaria, 2005), teknik ini dapat digunekan sebagai suatu cara untuk memperkuat apa yang ada di pinggir kesadaran klien, untuk mengeksplorasi polaritas, proyeksi-proyeksi, serta introyeksi dalam diri klien. Teknik kursi kosong sebagai alat biasanya digunakan untuk membantu klien dalam memecahkan konfli-konflik interpersonal, seperti kemarahan pada seseorang, merasa diperlakukan tidak adil, dan sebagainya. Tujuan pemakaian teknik ini adalah untuk mengakhiri konflik-konflik dengan jalan memutuskan urusan-urusan yang tidak selesai yang berasal dari masa lampau klien (Safaria, 2005:117). Dalam teknik ini, konselor menggunakan dua kursi sebagai media pelaksananya. Konseloa meminta klien untuk duduk dikursi menjadi under dog dimana under dog adalah pihak yang lemah, defensif, membela diri, tidak berdaya, dan tidak berkuasa. Kemudian pindah ke kursi satunya sebagai top dog dimana top dog adalah pihak yang berkuasa, otoriter, moralistik, menuntut, berlaku sebagai majikan, dan manipulatif. Teknik kursi kosong merupakan permainan peran dimana klien memerankan dirinya sendiri dan peran orang lain atau beberapa aspek kepribadian sendiri yang dibayangkan berada dikursi kosong.
-          Kegunaan Strategi Kursi Kosong
1.      Untuk memahami urusan-urusan yang tidak selesai dalam kehidupan klien yang selama ini membebani dan menghambat kehidupan klien secara sehat.
2.      menyadarkan klien untuk melihat kenyataan bahwa perasaan-perasaan itu merupakan bagian-bagian darinya yang nyata.
3.      Membantu klien agar bisa mengerti akan perasaan-perasaan atau sisi dari dirinya yang mungkin diingkari.
4.      Membantu klien untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang bertentangan dengan dirinya secara penuh.

Minggu, 24 Juli 2011

Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan yang diberikan kepada peserta didik baik perorangan atau secara kelompok yang bertujuan agar dapat mandiri dan  berkembang secara optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar, karir, keluarga, dan keagamaan melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung yang berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Minggu, 03 Juli 2011

Psikologi Pendidikan Tentang Aliran-aliran Pendidikan

Pada Bab ini akan disajikan pembahasan yang berhubungan dengan aliran-aliran yang digunakan untuk memahami permasalahan pendidikan yaitu masing :
  • Aliran klasik dan Gerakan Baru Pendidikan.
  • Dua “Aliaran” Pokok Pendidikan di Indonesia.
A.    Aliran klasik dan Gerakan Baru Pendidikan
Dilihat dari sudut perkembangan yang dialami oleh anak maka yang disengaja dan terencana yang yang disebut pendidikan ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan. Dalam hal ini akan dibahas :
1.      Aliran Klasik dalam Pendidikan
Terdapat beberapa faktor-faktor yang berperan dalam perkembangan anak dapat dinyatakan sebagai aliran klasik dalam pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan empat aliran pokok klasik yaitu :

a.      Empirisme
Teori Empirisme ini dipelopori oleh John Locke (1622-1700), seorang filsuf dari Inggris, mengajarkan bahwa perkembangan pribadi anak ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan (termasuk pendidikan). John Locke berpendapat bahwa anak yang baru lahir di dunia sebagai kertas putih dan lingkungan atau pendidikan itulah yang “menulisi” kertas putih tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah :
-          Pendidikan harus diberikan seawal mungkin
-          Pembiasaan dan latihan lebih penting dari pada peraturan, perintah atau nasehat.
-          Anak harus dianggap sebagai makhluk rasioanl, dalam hal ini kepada anak diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut darinya.

b.      Nativisme
Tokoh Nativisme adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filsuf dari bangsa Yunani yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan buruk. Teori ini bertolak belakang dengan teori Empirisme. Dalam hubungannya dengan hasil pendidikan dan perkembangan, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak kelahirannya. Aliran ini berpendapat bahwa pembawaan Maha Kuasa dalam pendidikan.
c.       Naturalisme
Teori Naturalisme ini dikembangkan oleh JJ. Rousseau (1712-1778) seorang filsuf dari bangsa Perancis. Rousseau berpendapat dalam bukunya Emila bahwa: “Semua adalah baik pada waktu baru datang dari tangan sang Pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia. Aliran ini juga disebut dengan negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik dengan sendirinya.
d.      Kovergensi
Tokoh aliran ini yaitu William Stern (1871-1939) seorang ahli Pendidikan bangsa Jerman, yang berpendapat bahwa Empirisme dan Nativisme itu masing-masing terlalu berat sebelah atau terlalu ekstern. Menurut aliran ini baik pembawaan maupun lingkungan kedua-duanya mempunyai pengaruh terhadap hasil perkembangan peserta didik.
2.      Gerakan Baru Dalam Pendidikan
Gerakan “Baru” dalam pendidikan mempersoalkan bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bermanfaat secara maksimal bagi individu yang sedang berkembang dan bagi lingkungan atau masyarakatnya.
Terdapat beberapa gerakan “baru” dalam pendidikan yang berkembang di Eropa dan Amerika adalah sebagai berikut :
a)      Pengajaran alam sekitar
1.      Konsepsi pengajaran alam sekitar.
Manusia hidup dalam lingkungan tertentu, dan terikat pada lingkungannya serta tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. Dalam hal ini manusia hendaknya mampu memanfaatkan lingkungannya sejauh mungkin, baik kehidupannya sehari-hari  maupun dalam hal pengembangan pribadi manusia sendiri, hal inilah yang menjadi dasar dari konsep pengajaran alam sekitar itu sendiri.
2.      Langkah-langkah Pokok Pengajaran Alam Sekitar.
Langkah-langkah pokok pengajaran alam sekitar adalah sebagai berikut :
a.       Menetapkan Tujuan, Pertimbangan utama. Yang harus diperhitungkan ialah kemampuan dan tingkat perkembangan anak.
b.      Persiapan perlu dilakukan, baik persiapan guru maupun persiapan siswa.
c.       Mengadakan Pengamatan dan Mengolah apa yang diamati.
d.      Langkah pengolahan tidak harus dilakukan di luar kegiatan pengamatan, tetapi sambil mengamati para siswa yang sudah langsung belajar bahkan menangkap berbagai permasalahan dari obyek pengamatan itu.
b)   Pengajaran Pusat Perhatian
1.      Konsepsi Pengajaran Pusat Perhatian.
Pengajaran pusat perhatian didasarkan pada pengajaran alam sekitar yang obyek-obyek pengamatannya dititik beratkan pada sesuatu atau pusat tertentu, pada hal-hal yang menarik perhatian anak seperti apa yang menjadi kebutuhan hidupnya.
2.      Asas-asas Pengajaran Pusat Perhatian.
Terdapat beberapa asas yang menonjol dalam kaitannya dengan pengajaran pusat perhatian yaitu :
-          Pengajaran didasarkan atas kebutuhan anak dalam hidup dan perkembangannya..
-          Setiap bahan harus merupakan keseluruhan (totalitas), tidak mementingkan bagian-bagian tetapi lebih keberartian dari keseluruhan ikatan bagian-bagian itu.
-          Hubungan keberartian antara bagian-bagian itu adalah hubungan saling membutuhkan dan saling memberi tahu.

c)    Sekolah Kerja.
1.      Aliran Pendidikan Individual dan Sosial.
Konsepsi sekolah kerja lahir dalam kaitannya dengan aliran pendidikan sosial yang berkembang dari aliran pendidikan individual yang ekstern mengatakan bahwa di dalam masyarakat yang paling pokok (primer) ialah individu, orang seorang dan masyarakat adalah sekunder, dan pendidikan sosial yang ekstern mengatakan bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakatlah yang paling utama sedangkan individu adalah sekunder.
2.      John Dewey (1859-1952)
John Dewey, seorang pemikir dan pendidik bangsa Amerika yang terkemuka, menentang tentang hakekat manusia masyarakat dan pengetahuan yang menjadi dasar pelaksanaan sekolah tradisional. Ia berpendapat bahwa jiwa tidak merupakan kumpulan yang sudah jadi dari daya-daya  yang memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan dunia luar, tetapi jiwa itu berkembang berkat kegiatan hidup sehari-hari yang berisi saling tukar menukar tersebut.
3.      Dasar-dasar sekolah kerja.
Sekolah kerja merupakan bentuk penyelenggaraan konsepsi pendidikan menurut aliran pendidikan sosial.
Mengenai dasar-dasar sekolah kerja dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)      Di dalam sekolah kerja anak aktif berbuat mengamati sendiri, mencari jalan sendiri, memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi sendiri.
2)      Pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran ialah anak, bukan guru, metode ataupun bahan pelajaran.
3)      Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri sendiri dan selalu bertanggung jawab sebagai masyarakat yang baik.
4.      Macam-macam Sekolah Kerja.
Beberapa macam sekolah kerja satu dengan lain penekanannya berbeda yaitu :

1)      Sekolah kerja sosiologis.
Sekolah kerja sosiologis digerakkan oleh G. Kerschenteiner (1857-1932), bangsa Jerman. Tokoh ini cenderung pada aliran pendidikan sosial ekstern. Tugas pendidikan yaitu memimpin anak menjadi pribadi yang baik. Sekolah ini mempersiapkan anakan menjadi warga negara melalui latihan bekerja dengan pertimbangan sebagai berikut :
-          Setiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan pekerjaan atau jabatan negara.
-          Setiap orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan negara.

2)      Aliran baru dalam pendidikan.
Aliran baru dalam pendidikan yang masing-masing memberikan penekanan yang berbeda terhadap dasar maupun praktek usaha pendidikan yang lebih bersifat “tradisional” atau “maju”.
a.       Perenialisme
b.      Progresivisme
c.       Esensialisme
d.      Rekonstruksionalisme

B.     Gerakan Pendidikan di Indonesia.
1.       
a.       Asas-asas Taman Siswa
Pada waktu Taman Siswa didirikan (3 Juli 1922) Ki Hajar Dewantara menegaskan asas-asas yang intinya adalah sebagai berikut :
-          Adalah menjadi hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dengan tujuan terbinanya tertib dan damai dalam kehidupan bersama.
-          Pengajaran harus membimbing anak menjadi manusia yang merdeka dalam rasa, berfikir, dan mempergunakan tenaganya.
-          Pendidikan harus merata untuk seluruh rakyat.

b.      Panca Dharma.
Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, Taman Siswa menyesuaikan di dengan pemerintah nasional, khususnya yang berkaitan dengan sikapnya yang non-kooperasi itu. Selanjutnya Taman Siswa mendasarkan pelaksanaan usaha-usahanya pada apa yang disebut Panca Dharma tanpa pengesahan asas-asas tersebut di atas yang tetap menjiwai perguruan tersebut.
Adapun Panca Dharma dan keterangannya tersebut ialah :
2.      Dasar Kemanusiaan.
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan adab kemanusiaan manusia. Adab kemanusiaan ini hendaknya mewarnai kehidupan manusia lahir batin baik dalam arti perorangan maupun kelompok.
3.      Dasar kebangsaan.
Dalam kebersamaanya manusia yang hidup di Indonesia menumbuhkan kesatuan dan kebudayaan Indonesia. Dasar kebangsaan tidak bertentangan dengan dasar kemanusiaan, bahkan antara keduanya saling mengisi.
4.      Dasar Kebudayaan.
Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara bahwa dasar kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dasar kemanusiaan dan dasar kebangsaan.
5.      Dasar Kodrat Hidup/Kodrat Alam.
Secara umum arah pendidikan adalah menuju ke kesempurnaan hidup manusia sehingga dapat memenuhi segala keperluan hidup lahir dan batin sebagaimana terkandung pada diri manusia menurut kodrat alam. Jadi pendidikan terluhur adalah terkandung dalam kodrat alam atau kodrat hidup.
6.      Dasar Kemerdekaan.
Dasar kemerdekaan merupakan petunjuk bahwa mendidik berarti berusaha membantu anak didik agar menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka pengarahan kegiatannya.
c.       Corak Pendidikan Nasional dan Sistem Among
1.      Corak Pendidikan Nasional.
Corak Pendidikan Nasional menurut Taman Siswa pada dasarnya bersifat, berisi, dan berorientasi pada kebudayaan kebangsaan. Ini tidak berarti bahwa kebudayaan asing harus ditolak atau dimusuhi, tetapi unsur-unsur kebudayaan asing dapat diterima selama tidak merusak kebudayaan sendiri dan selama unsur-unsur itu bermanfaat bagi perkembangan dan peningkatan kebudayaan sendiri.

2.      Sistem Among.
Sistem Among menekankan pengembangan kodrat alam anak didik yang pada dasarnya merdeka. Dalam hal ini pendidik merupakan pamong yang tidak memerintahkan atau memberi saja, melainkan tut wuri handayani, mengikuti dari belakang sambil terus menerus menumbuhkan kekuatan pada anak didik untuk berkemba

d.      Tri Pusat/Tri Sentra.
Di Taman Siswa pendidikan harus dilakukan ditiga pusat, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Alam keluarga adalah pusat pendidikan pertama dan terpenting oleh karena sejak timbulnya adab kemanusiaan sampai sekarang kehidupan keluarga itu selalu mempengaruhi perkembangan anak manusi. Alam pergerakan pemuda juga tida boleh memisahkan anak didik dari alam, keluarganya. Alam pergerakan pemuda terutama terpenting sekali pendidikan diri sendiri, memadukan perkembangan kecerdasan, budi pekerti dab perilaku sosial.
2.Ruang Pendidikan INS
INS didirikan pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam Sumatra Barat oleh Moh. Syafei.
a.      Tujuan INS.
-          Mendidik rakyat kearah kemerdekaan.
-          Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
-          Menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
-          Berusaha dapat berdiri sendiri dan tidak bersedia menerima bantuan dari orang lain yang mengurangi kebebasan.

b.      Sistem Pendidikan INS.
Moh. Syafei seorang pejung, oleh karena itu ia menekankan kepada bangsa Indonesia agar memiliki watak yang merdeka. Syarat untuk membentuk watak yang merdeka yaitu dengan memberikan alat yang akan menyadarkan, bahwa mereka (anak didik, para pemuda, segenap warga negara) mempunyai kemampuan untuk berbuat segala yang berguna bagi kehidupannya sendiri dan bagi orang lain di dalam lingkungan hidupnya.
Sebagai sekolam umum, INS memperlihatkan keunikan tertentu yaitu mempergunakan pekerjaan tangan, kesenian, koperasi, olah raga, dan kegiatan-kegiatan lainnya sebagai alat pendidikan, seperti berikut :
1)      Pendidikan keterampilan, yang antara lain meliputi pertukangan kayu, besi, keramik, listrik, pateri.
2)      Pendidikan peratanian yang meliputi bercocok tanam, peternakan, perikanan yang ditunjang oleh tehnologinya.
3)      Pendidikan Karya Seni yang meliputi seni rupa, drama, musik, tari, olah raga.

4)      Pendidikan manajemen yang meliputi kegiatan seperti pengelolaan koperasi, perpustakaan, asrama.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa INS bukanlah sekolah kejuruan, melainkan sekolah umum yang mempergunakan pekerjaan tangan, kesenian dan olah raga dan kegiatan kreatif lainnya sebagai alat pendidikan bagi penyaluran pembawaan anak didik. Perlu dikemukakan bahwa INS Kayutanam adalah suatu lembaga pendidikan yang hendak membiayai dirinya sendiri dari hasil sendiri. Adapun beberapa cara yang ditempuh untuk mencari biaya adalah mengadakan penjualan hasil karya murid, mengadakan pertandingan olah raga dengan menjual tiket murah, dan menolong warga sekitar yang membutuhkan pertolongan (misalnya membuat rumah dengan ongkos yang mura).